Selasa, 11 November 2014

Perkembangan Anak Usia 3-6 Tahun

Perkembangan Anak Usia 3-6 Tahun

Latar Belakang
Manusia telah mengalami perkembangan sejak dalam kandungan atau pada masa pralahir. Menurut King (2014) perkembangan adalah “the pattern of continuity and change in human capabilities that occurs throughout the course of life” (p.290). Maka, manusia selalu mengalami perkembangan dalam hidupnya. Masa kanak-kanak adalah dasar dari pola kepribadian seseorang, jika pada masa ini anak mengalami hal buruk maka akan memudahkan timbulnya masalah pada masa perkembangannya. Ada 3 hal yang dapat memengaruhi kepribadian anak, yaitu: (a) kualitas hubungan antar manusia contohnya adalah hubungan ibu dan anak yang dapat menimbulkan rangsangan mental, proses sosialisasi, dan pengembangan emosi; (b) semakin bermakna hubungan antar manusia kemungkinan dapat menurunkan emosi pada anak yang dapat berpengaruh buruk terhadap perkembangannya; dan (c) metode pengasuhan yang diterapkan dirumah. Banyak orangtua yang menuntut anaknya menjadi sempurna sehingga anak menjadi tertekan dan berontak, sedangkan ada orangtua yang terlalu melindungi anaknya hal ini akan berakibat buruk bagi anak (Atmodiwirjo, 2008).

Ciri-ciri perkembangan Anak
     Anak berumur 3-6 tahun tergolong dalam masa pra-sekolah (Atmodiwirjo, 2008). Pada masa ini anak memiliki beberapa perkembangan yaitu perkembangan fisik, perkembangan motorik, perkembangan kognitif, perkembangan sosial, dan perkembangan moral.
     Perkembangan fisik. Pada usia 3 tahun anak memiliki tinggi 3 kaki dan akan bertambah 6 inci pada saat usia 5 tahun. Berat badannya sekitar 15 kg-20 kg, biasanya anak laki-laki cenderung lebih tinggi dibandingkan anak perempuan tetapi, tidak semua anak memiliki perkembangan yang sama. Dalam usia ini otot-otot akan menjadi lebih kuat dan tulang-tulang tumbuh menjadi lebih besar dan keras. Otak mengalami perkembangan sekitar 75% dari berat otak manusia dewasa. (Akbar-Hawadi, 2001).
     Perkembangan motorik. Menurut Atmodiwirjo (2008) “perkembangan motorik adalah perkembangan pada otak yang mengatur sistem syaraf-otot” (h. 11). Pada usia 3-6 tahun anak lebih lincah dan aktif bergerak. Ada dua jenis gerakan yaitu gerakan motorik kasar dan gerakan motorik halus.
     Gerakan motorik kasar adalah gerakan yang banyak menggunakan otot-otot kasar disebut motorik kasar (gross motor) yang digunakan untuk melakukan aktivitas seperti memanjat, melompat, atau melempar. Gerakan motorik halus adalah gerak yang menggunakan otot halus disebut motorik halus (fine motor) yang digunakan untuk aktivitas menggambar, menggunting, menempet, atau melipat (Syaodih, n.d.). Atmodiwirjo (2008) menyatakan bahwa “Beberapa permainan dapat digunakan untuk melatih otot-otot pada anak seperti kertas koran, kubus-kubus, bola, balok dan tongkat” (h. 12).  
     Perkembangan kognitif. Piaget (dikutip oleh king, 2014) menyatakan bahwa “cognitive development refers to how thought, intelligence, and language processed change as people mature” (p. 298). Jadi, perkembangan kognitif adalah perkembangan bahasa dan cara berpikir anak untuk menjadi lebih dewasa. Anak berumur 3-6 tahun tergolong dalam tahap preoperasional. Pada tahap ini anak akan mengungkapkan sesuatu dengan kata-kata dan gambar hal ini dapat meningkatkan pemikiran simbolis. Anak juga belum bisa membedakan perubahan terhadap suatu benda (King, 2014). Dalam tahap ini kemampuan berbicara anak akan berkembang, biasanya anak usia 3-6 tahun akan lebih banyak bertanya. Menurut Atmodiwirjo (2008) “Ada 4 tugas yang perlu diperhatikan dalam perkembangan berbahasa  mengerti pembicaraan orang lain, menyusun dan menambahkan perbendaharaan kata, menggabungkan kata menjadi kalimat, dan pengucapan  yang baik dan benar” (h. 12).
     Perkembangan sosial. Anak pada umur 3-6 tahun telah memasuki tahap awal sekolah dan banyak bersosialisasi dengan teman sebayanya. Pada awalnya anak cenderung banyak bermain dengan orang dewasa atau dengan saudara kandungnya sehingga anak membutuhkan teman sebaya untuk bermain, untuk menggantikan teman anak pada umur 3-4 tahun memiliki teman khayalan dan diatas usia itu anak biasanya mempunyai binatang peliharaan seperti kelinci, anjing, kucing, ikan dan lain-lain (Akbar-Hawadi, 2001).
     Perkembangan moral. Moralitas adalah keadaan nilai-nilai moral dalam hubungan dengan kelompok sosial. Perilaku moral adalah sesuatu yang diperoleh atau dipelajari maka ada beberapa faktor yang memengaruhi perkembangan moral, yaitu lingkungan rumah, lingkungan sekolah, lingkungan teman sebaya, segi keagamaan, dan aktivitas-aktivitas rekreasi. Pada usia 3-6 tahun anak sudah dapat mengerti perbuatan yang salah atau benar, jika anak tidak melakukan perbuatan yang benar maka akan dihukum. Pada usia 5-6 tahun anak harus mematuhi setiap peraturan yang berlaku seperti peraturan sekolah atau peraturan orangtua. Penanaman konsep moralitas akan mengalami kesulitan karena anak mempunyai sifat-sifat pembangkang atau sifat-sifat egois (Gunarsa, 2012).

Simpulan
     Perkembangan akan terus terjadi selama manusia hidup. Anak berumur 3-6 tahun disebut dengan anak pra-sekolah. Perkembangan pada anak umur 3-6 tahun mencangkup: (a) perkembangan fisik, anak akan berkembang lebih tinggi dan lebih berat pada umur 3-6 tahun; (b) motorik, ada dua gerakan motorik yaitu gerakan motorik kasar, seperti melompat, berlari, atau memanjat dan gerakan motorik halus, seperti menggambar, menempel, atau menulis; (c) sosial, anak akan lebih banyak bersosialisasi dengan teman sebayanya karena telah memasuki masa sekolah awal; (d) kognitif, pada usia 3-6 tahun anak akan lebih memahami gambar dan kata-kata atau berpikir secara simbolis; (e) dan moral, anak akan belajar menyesuaikan diri dengan peraturan-peraturan yang berlaku.

Daftar Pustaka

Akbar-Hawadi, R. (2001). Psikologi perkembangan anak: Mengenal sifat, bakat dan kemampuan anak. Diunduh dari http://books.google.co.id/books?id=rjyJHqMTCoIC&dq=perkembangan+sosial+anak+usia+3-6&source=gbs_navlinks_s
Atmodiwirjo, E. T. (2008). Perkembangan anak: Suatu tinjauan dari sudut psikologi perkembangan. Dalam S. D. Gunarsa & Y. S. D. Gunarsa (Ed.). Psikologi perkembangan anak dan remaja. (h. 3-15). Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Gunarsa, S. D. (2012). Psikologi perkembangan. Jakarta: Libri.
King, L. A. (2014). The science of psychology: an appreciative view (3rd ed.). New York, NY: McGraw-Hill.

Syaodih, E. (n.d.). Psikologi perkembangan. Diunduh dari http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PGTK/196510011998022-ERNAWULAN_SYAODIH/PSIKOLOGI_PERKEMBANGAN.pdf 

Kamis, 06 November 2014

Peranan Media Sosial dalam Bidang Pendidikan

Peranan Media Sosial dalam Bidang Pendidikan

Latar Belakang
     Sekarang ini maraknya penggunaan media sosial sudah menjadi kebutuhan semua orang dari tua sampai muda, bahkan tidak sedikit orangtua yang membuatkan akun pribadi untuk anaknya. Kaplan dan Haenlein (dikutip oleh Tea, 2010) mendefinisikan media sosial sebagai "sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang membangun di atas dasar ideologi dan teknologi Web 2.0, dan yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran user-generated content " (p.59–68). Media sosial menjangkau masyarakat di seluruh dunia sehingga dapat berkomunikasi dengan cepat dan mudah. Media sosial juga digunakan untuk menyebarkan informasi dan mengekspresikan diri.
 Sebagian besar pengguna media sosial adalah anak remaja, mereka menggunakan media sosial untuk mengekspos diri sendiri sehingga mempengaruhi aktivitas belajar. Media sosial sangat membantu dalam bidang pendidikan karena semua ilmu pengetahuan dapat dengan mudah dan cepat diperoleh melalui media sosial. Media sosial juga dapat mempermudah pelajar untuk menyebarkan informasi dan membahas pelajaran tanpa harus bertemu.

Jenis-jenis Media Sosial
Menurut Kaplan dan Haenlein (dikutip oleh Putra, 2010) ada enam jenis media sosial:
     Proyek Kolaborasi. Media sosial yang dapat membuat konten dan dalam pembuatannya dapat diakses secara global. Ada 2 jenis proyek kolaborasi yaitu:
     Wiki. Menurut Kalpan dan Haenlein (dikutip oleh Putra, 2010) “wiki adalah situs media sosial yang mengijinkan usernya untuk dapat mengubah, menambah, ataupun meremove konten–konten yang ada di website ini. contohnya wikipedia” (p. 59-68).
     Aplikasi bookmark sosial. Situs yang menyediakan pengumpulan berbasis kelompok dan rating dari link internet.
     Blog dan microblog. Blog adalah sebuah website yang menyampaikan mengenai penulis atau kelompok penulis baik itu sebuah opini, pengalaman, atau kegiatan sehari-hari. contohnya twitter, blogger, wordpress, tumblir, dan lain-lain.
Konten. Para user dari pengguna website ini saling mengshare konten-konten media, baik seperti video, ebook, gambar, dan lain–lain. contohnya youtube, vimeo, flickr, 4shared, dan lain-lain.
Situs jejaring sosial. Aplikasi yang mengizinkan user untuk dapat terhubung dengan cara membuat informasi pribadi sehingga dapat terhubung dengan orang lain. Informasi pribadi itu bisa seperti foto–foto. contoh facebook, my space, dan lain-lain.
Dunia game virtual. Dunia virtual, dimana mengreplikasikan lingkungan 3D, dimana user bisa muncul dalam bentuk avatar–avatar yang diinginkan serta berinteraksi dengan orang lain selayaknya di dunia nyata. contohnya game online.
Dunia sosial virtual. Dunia virtual yang dimana penggunanya merasa hidup di dunia virtual, sama seperti virtual game world, berinteraksi dengan yang lain. Namun, Virtual Social World lebih bebas, dan lebih ke arah kehidupan, contohnya second life.

Pengaruh Media Sosial dalam Bidang Pendidikan
     Menurut Putra (2013) selain sebagai sarana hiburan media sosial juga bisa menjadi sarana untuk belajar dengan adanya sistem pendidikan e-learning yang dapat membantu murid untuk dapat dengan mudah belajar menggunakan sarana media sosial.
Dampak positif. Media sosial dapat membantu kemudahan dalam bidang pendidikan, contohnya banyak sekolah dan perguruan tinggi yang memakai sarana media sosial untuk membuka pendaftaran murid baru
Dampak terhadap pelajar. Dalam hal ini pelajar sangat dipermudah dalam mencari informasi mengenai pelajaran dari internet, mendapat informasi dengan cepat, dapat berdiskusi membahas tugas dengan teman, mahasiswa dapat menyusun jadwal pertemuan dengan dosen, dan media sosial juga menyediakan soal-soal latihan untuk para pelajar.
Dampak terhadap guru. Dalam hal ini guru dipermudah untuk menghubungi para siswa hanya dengan posting status di media sosial. Guru juga dapat membagikan sumber pembelajaran melalui situs blog, guru dapat dengan mudah mengumpulkan tugas melalui email, dan sekarang sudah ada sistem penilaian online jadi para guru dipermudah dalam menilai.
Dampak Negatif. Selain mempunyai dampak positif media sosial juga mempunya dampak negatif yang biasanya berpengaruh pada pelajar.
Dampak terhadap pelajar. Media sosial sangat banyak digunakan oleh para pelajar sehingga dapat menggangu proses belajar, para pelajar menjadi malas mengerjakan tugas karena bisa mengcopy dari internet, pelajar ketergantungan dengan gadget dan menjadi jarang membaca buku karena semua dapat diakses melalui media sosial, dapat memicu kejahatan, dan pornografi.
Kesimpulan
     Media sosial sangat berpengaruh dalam bidang pendidikan terutama di kalangan pelajar untuk mempermudah mencari informasi tentang pengetahuan. Media sosial juga membantu para guru dalam memberi informasi kepada murid. Media sosial mempunyai dampak positif dan dampak negatif yang dapat bersifat kriminal

Referensi List
Hariyani (2012, Juni). Pengunaan media sosial dalam dunia pendidkan. Majalah pendidikan online Indonesia. Diunduh dari http://mjeducation.com/penggunaan-media-sosial-dalam-dunia-pendidikan/ 
Tea, R. (2014, April). Media sosial: Pengertian, karakteristik, dan jenis [Web log post]. Diunduh dari http://www.romelteamedia.vom/2014/04/media-sosial-pengertian-karakteristik.html?m=1
Putra, A. (2013, Juni). Media sosial sebagai sarana belajar [Web log post]. Diunduh dari http://www.kupang-online.com/2013/06/media-sosial-sebagai-sarana-belajar.html
Putra, W. A. (2013, Januari 27). Media sosial dan jejaring sosial [Web log post]. Diunduh dari http://wibawaadiputra.wordpress.com/2013/01/27/media-sosial-jejaring-social-media-social-network/